Jefri Al Malay
Yang bergumpal senang diulit
Yang berderai senang ditampi
Yang merekah sukar dirapat
Yang memecah sukar ditambal
Diskusi bernas sudah pun selesai. Diberi tajuk “Pembatinan Kebudayaan, Kenapa Literasi?”. Prof. Yusmar Yusuf duduk dimuka memantik sembang. Dr Bambang Karyawan, mengatur “lalu lintas” percakapan. Diskusi asyik ini difasilitasi Salmah Publishing dkk. Lantas, setelahnya tentu tidak mungkin senyap menerpa. Harus ada yang dipercakapkan penyambung fikir.
Bagi saya, materi sembang yang telah disuguhkan Yusmar Yusuf di dalam majelis, adalah suguhan vitamin berupa “pecahan” pembacaan, tafsir atau analisa beliau yang seolah-olah sengaja dicampakkan dari atas kemudian memecah ke bawah. Diharuskan berserak agar kemudian ada yang mau mengutipnya satu persatu untuk menyusun pikiran-pikiran lain dari upaya mengutip tersebut. Hal ini bermakna, tidak ada “kemutlakan” benar dalam banyak pikiran yang telah disajikan. Lintasan-lintasan pemikiran akhirnya bisa saja menjelma titik pencerahan, temuan-temuan atau bahkan kebuntuan. Makanya kemutlakan benar tergantung pada apa dan bagaimana cara kita “mengutip”nya. Artinya, hasil tangkapan bisa saja relatif. Konsep ini sejalan dengan apa yang pernah disampaikan oleh filsuf Yunani Kuno, Parmenides yang mengatakan bahwa segalanya relatif karena kita tidak pernah bisa meraih pengetahuan yang mutlak benar.
Oleh karena itu, tulisan saya ini berupaya memosisikan adanya “ketidakmutlakan” benar. Tetapi mencari celah, alas dan mencari ruang pikir yang lain agar percakapan ini tidak selesai hanya sebatas mengiyakan saja apa-apa yang telah disampaikan. Pilihan “posisi” ini juga menghindari agar tulisan saya tidak hanya sebatas meliput atau menyimpulkan renyah percakapan yang sudah berlangsung dari siang hingga menyantak ke senja tersebut.
Terlebih lagi, mengutip salah satu materi yang telah dibagi, saya tak mau tulisan ini menjadi percakapan dalam rangka hendak menghadirkan suasana persahabatan dilapis awal, sebagaimana yang telah diperdebatkan oleh Plato,Socrates dan Lyses suatu masa dahulu, yakni tentang persahabatan yang syaratnya diduga atas dasar saling/timbal balik (reciprocite). Kesalingan itu selalunya dibumbui oleh puja-puji semu alias ilusi. Saya kira, kalau hanya sebatas itu, gagal kehendak diskusi yang telah ditaja, pasalnya tak ada sanggah menyanggah setelahnya. Padahal lecitan demi lecitan pikiran demikian lebatnya mengusik minda.
Tajuk diskusi yang dipilih bagi saya sangat menggoda. Tetapi bila mengikuti dan menyimak jalannya diskusi, jawaban dari tajuk tersebut dapat dijumpai dan menjadi kata kunci, yakni ketika Yusmar menegaskan bahwa dalam ajaran sufi ada disebutkan yang kira-kira menyatakan bahwa hakikat ilmu itu bukan menikam ke luar tetapi menohok ke dalam.
Kaitannya dengan frasa pembatinan kebudayaan dalam pemahaman saya, adalah kehendak mulia agar kiranya kebudayaan yang dihasilkan dapat dijulang kebermanfaatannya dalam kehidupan. Kebermanfaatan yang dimaksud samalah halnya dengan konsep yang pernah dipaparkan oleh Horatius, yaitu dulce et utile (dalam bahasa Latin, sweet and useful). Dulce (sweet) berarti sangat menyenangkan atau kenikmatan, sedangkan utile (useful) berarti isinya bersifat mendidik.
Kata “batin” sesuatu yang menyangkut kejiwaan, yang lahir dari kedalaman hati, kehendak yang bersih dan suci, laksana cinta yang jujur, cinta platonik, cinta filosofis. Cinta yang menggerakkan, tanpa ada tendensi yang lain selain dari cinta itu sendiri. Pembatinan kebudayaan harus bepunca dari gerak dan spirit yang demikian.
Sampai disini, tentu kita sepakat. Bagaimana mungkin, pembatinan kebudayaan dapat dicapai dari dasar kepentingan-kepentingan yang bertendensi selain dari kebermanfaatan kebudayaan itu sendiri. Seperti halnya, cinta, bagaimana mungkin kesucian dan ketulusan cinta lahir dari sesuatu yang tidak jujur niat awalnya. Oleh karenanya, konsep pemikiran menohok ke dalam, tidak menikam ke luar adalah jurus yang mumpuni untuk sampai kepada pembatinan kebudayaan. Kebudayaan hendaknya dijadikan sebagai cerminan diri terlebih dahulu, tidak kemaruk “menunjuk-nunjuk”, menjengah-jengah keluar sahaja. Filsuf Jerman, Immanuel Kant pernah menegaskan bahwa ciri khas kebudayaan itu terdapat dalam kemampuan manusia untuk mengajar dirinya sendiri terlebih dahulu. Kebudayaan dijadikan semacam sekolah di mana dirinya dapat belajar terus menerus.
Dari tajuk diskusi yang terselenggara juga mengingatkan saya istilah “mata batin”. Selalunya dalam keseharian orang Melayu mengatakan untuk melihat sesuatu yang tak kasat mata harus menggunakan mata batin. Tetapi tidak semua orang pula bisa menggunakan mata batin tersebut, kecuali orang-orang yang sudah sampai “kajinya”. Dengan demikian, frasa Pembatinan Kebudayaan yang telah dipilih sebagai tajuk diskusi bisa jadi merujuk kepada kebudayaan yang ranggi, kebudayaan yang berada dipucuk, lapisan tertinggi. Sekali lagi, kehendak mulia ini, tentu tak akan pernah terwujud dari hamba-hamba yang tidak pernah berupaya untuk memulai sesuatu dari kedalaman dirinya.
Selain itu, beberapa hal yang kira-kira perlu diperhatikan dalam upaya pembatinan kebudayaan telah pula disampaikan dengan terang oleh Yusmar dalam diskusi. Diantaranya, kesadaran aksara, passing out ke tanah-tanah liar dan yang paling menarik itu adalah menjaga dan merawat kepekaan dan kritisme terhadap dunia. Dalam bahasa Yusmar menyebutkan harus sarat tanya dan sangsi dalam gayutan akal dan budi agar kemudian dapat membongkar “the true self”.
Pembongkaran dimaksud dalam tangkapan saya, adalah menggunakan akal budi yang otonom, yang memang secara fitrah ada di dalam diri manusia, yang mampu menangkap kebaikan-kabaikan dalam diri dan alam. Bukan akal budi yang instrumental dan formalis. Akal budi yang tidak hanya bicara kegunaan subjektif tapi keseluruhannya. Dalam teori Horkheimer, disebut akal budi objektif yakni, akal budi yang kemudian mampu berpikir dari subjek, objek, mampu “menciptakan” ide-ide baik tegerak dari dalam maupun luar dirinya sehingga terbangun tatanan hierarki dari semua yang ada, termasuk manusia, alam dan tujuan-tujuan hidupnya.
Dalam istilah Kant, akal budi murni, yakni kemampuan untuk memutuskan mana tindakan yang baik dan mana yang tidak (etika), mana yang indah dan tidak indah (estetika), dan akal budi murni juga dapat dimengerti sebagai akal budi yang belum terhubung dengan pengalaman empiris. Sedangkan Al-Fārābī merumuskan akal budi sebagai Keutamaan pikiran dan ilmu pengetahuan dan Keutamaan moral di dalam berpikir dan berbuat, yaitu keunggulan di dalam budi pekerti dan akhlak yang tetap memelihara kemanusiaan. Akal budi serupa inilah saya kira yang bisa menembus lapis kedua yang dimaksudkan Yusmar tersebut (the true self).
Skandal Literasi
“Phaedrus” merupakan karya Plato. Di dalamnya berisikan teks yang kaya dan penuh teka-teki, membahas berbagai masalah filosofis yang penting, termasuk metafisika, filsafat cinta, dan hubungan bahasa dengan kenyataan, terutama yang berkaitan dengan praktik retorika dan penulisan.
Dari beberapa referensi disebutkan, Plato ada menulis kisah mitologi Mesir di dalamnya, di mana raja-dewa Thamus menyanggah sebuah penemuan dewa Theuth berupa bahasa tulisan. Kemudian, Theuth menawarkan penemuannya sebagai hadiah terbesar bagi umat manusia, namun tak dinaya, Thamus justru meramalkan hal itu akan memberikan efek korosif (perusak) pada peradaban dan kebudayaan manusia.
Salah satu efek yang diduga terjadi dan tampak nyata hari ini misalnya, akan ada banyak sekali pendengar, tanpa benar-benar belajar. Manusia akan tampak seolah-olah tahu banyak, tapi sesungguhnya nonsense alias tidak tahu apa-apa. Akan bermunculan manusia-manusia yang kelihatan memiliki kebijaksanaan, tapi tak benar-benar memiliki nya.
Agaknya hal ini gambaran yang kemudian disampaikan oleh Yusmar sebagai skandal. Jauh sebelum dihadiahkan aksara, manusia adalah makhluk yang mengandalkan daya ingat. Kehadiran aksara kemudian secara langsung atau tidak, perlahan menumpulkan keterampilan menghafal manusia. Kita akhirnya bergantung-bergelayut dengan keberadaan aksara yang terus bertransformasi.
Sampai di sini, kita coba bersepakat dengan skandal di atas. Meskipun di sisi lainnya, kita tak menafikan deretan daftar panjang yang telah diselamatkan hadiah peradaban berupa aksara (literasi). Meminjam pernyataan Murparsualian dalam tulisan sebelumnya yang menyebutkan, pada hakikatnya literasi itu membawa cahaya bagi manusia. Bukan hanya sebagai pengumpul ilmu pengetahuan, namun lebih dari itu, menjunjung akal budi dari tungkai-tungkai huruf yang disusun menjadi jalinan kata-kata yang bermakna.
Tapi baiklah, mengikuti alur pemikiran Plato bahwa keadaan hari ini dikhawatirkan hasil dari skandal literasi (yang telah bertranfofrmasi), merecup fenomena di mana kebijaksanaan seseorang bergantung pada kemampuan mereka menampilkannya secara efektif. Di era sosial media, misalkan; di sinilah saya kira masalahnya akan timbul, tatkala orang akan berlomba-lomba mengemas penampilannya agar tampak bijaksana, tampak bedelau, tampak baik-baik saja, tampak cantik rupawan, tampak berkelas, sementara nalar kita semakin tumpul untuk bisa membedakan realitas sebenarnya dengan yang bukan (imaji). Sementara kemampuan mengemas, mempersolek, mempersunting semakin besar kemaruk dan seleranya demi menjaga keberlangsungan sirkulasi digital dan eksistensi “semu”.
Kita alih-alih bersibuk gemar menjadi pemburu. Pemburu like, komentar, share, dan viral. Menjelma menjadi kaum-kaum yang berbuat ketis-ketis, sementara nak dipuja-puji sampai sedunia. Apa-apa dibuat, kenalah dibagikan agar orang tahu dan celakanya, berharap pulak dipuja-puji. Seru kan? Mengutip pendapat gurunya Plato, Socrates yang menyebutkan semakin kita mempertontonkan betapa “berlebihnya” kita (moral,bijak, dsb), maka semakin besar kemungkinan kita tak menyadari kekurangan kita sendiri. Hehehe.
Bagi saya ini semakin menarik. Berada dalam lingkaran skandal, sesungguhnya kita tak tahu siapa yang menjebak, siapa yang dijebak dan terjebak. Jangan-jangan kita hendak bersibuk-sibuk menghidupkan atmosfir kritis sementara kita sendiri paling alergi dengan kritik, paling lantang mengatakan orang-orang adalah budak dari kebohongan bangunan masa lalu, sementara di sisi lain, kita justru adalah budak-budak dari bangunan yang lainnya. Bak kata bidal Melayu “mengata papan, paku serpih, mengata orang, dia yang lebih”. Atau memakai konsep sufi yang disebutkan di atas tadi (menohok ke dalam), jangan-jangan tulisan saya yang panjang berjela-jela ini adalah bagian dari skandal, supaya tampak bijaksana. Padahal apa ke tidak saja. Khakhakaha. Sungguh demikian “serunya” dalam skandal. Hati-hati ! Aku atau engkaukah yang dijebak?
Menutup tulisan ini (dalam lingkaran skandal), saya hendak katakan “sinisme” bukan satu-satunya respon atas semuanya. Salah satu ilmu filsafat yang merecup di era pra-Socrates disebut stoicisme. Salah satu pahamnya menyebutkan seluruh kosmos adalah satu organisme hidup, entitas kesatuan di mana kita semua menjadi bagiannya. Oleh karena itu, sebagai makhluk rasional, kita bukankah memiliki kapasitas untuk memahami keinginan kita sendiri, dan berlaku sesuai dengannya.
Setidaknya disebabkan media sosial (tranformasi literasi dan wujud-wujud literasi lainnya), yang menawarkan mekanisme konektivitas. Kita atau siapa saja dapat membuat komunitas sebenar-benar komunitas, berkomunikasi sebenar-benar komunikasi, tidak hanya terjebak dalam istilah Jean baudrillard “ekstasi komunikasi”, mengedepankan aktivitas komunikasi semata-mata tanpa menghiraukan isiannya.
Komunikasi yang dibangun apakah berlandaskan niat baik dan saling menguntungkan. Tanya kembali pada diri, apakah kita berliterasi untuk menyumbangkan kebaikan kepada manusia lain, atau sesuai dengan tajuk diskusi, berliterasi dalam rangka upaya pembatinan kebudayaan. Atau pun hanya untuk menghibur diri saja, untuk dapat puja-puji.
Tapi terlepas dari itu semua, bila hendak kembali ditelisik, konektivitas tanpa batas yang terjadi hari ini, bukankah akan terus menjadi sumber keduanya antara kemajuan sekaligus disfungsi terburuk umat manusia. Tergantung tuan empunya diri. Begitu juga saya kira “tempat pertemuan” mana pun berada, ruang di mana ada sua antara satu dan lainnya dengan segala fiil kebaikan dan keburukan, terkadang kita bisa menemukan diri sendiri. Wallahualam.
Demikian lintas kurangnya fikir
Dari hamba yang fakir
Keterbatasan hambalah empunya diri
KepadaNYA tempat yang paling hakiki
Jefri al Malay
Sastrawan dan dosen di Fakultas Ilmu Budaya, Prodi Sastra Melayu Universitas Lancang Kuning.





