Judul : Penyair, Karya dan Proses Kreatif
Penulis : Abdul Kadir Ibrahim
Mosthamir Thalib
Yatiman Yusof
Isbedy Stiawan ZS
Hasan Aspahani
Jumlah Hal : x + 118 halaman
Ukuran : 14 x 21 cm
Terbit Pertama : 2023
Desain Cover : @ajim
Layout Isi : Nizamul Akhyar
Subjek : Esei
Target Pembaca : Umum
Penerbit : Milaz Grafika
Kata Pengantar
Untuk Apa Sebuah Buku Puisi
Diterbitkan
Seorang Penyair barulah benar-benar penyair kalau sudah punya buku kumpulan puisi sendiri. Pendapat ini memang terkesan berlebihan. Karena bagaimanapun seseorang disebut penyair kalau sudah menulis puisi dan puisinya bagus. Meski hanya sebuah puisi. Jadi karyalah yang menasbih seseorang itu Penyair, atau bukan penyair. Seseorang itu disebut apa, berdasarkan apa yang telah dilakukannya dengan sepenuh hati, sepanjang hidupnya. Karena itu juga penyair itu sebuah profesi. Pekerjaan yang memerlukan keahlian, dan tidak semua orang dapat melakukannya. Kata orang bijak, penyair adalah orang yang dengan kata-kata mampu mengubah dunia. Ingat ada pepatah Parsi yang dikutip Pujangga Raja Ali Haji dan ditulis dalam bukunya Bustan Al Khatibin (Taman Para Penyair): Kata Pena akulah Raja di ini dunia ……….
Tetapi bahwa seorang penyair barulah penyair kalau sudah punya buku puisi, tidak juga terlalu berlebihan. Sebab sebuah buku kumpulan pusi seorang penyair, hakekatnya adalah pertanggung jawaban seorang penyair atas kepenyairannya. Karena setidaknya buku itu menjadi semacam perekam jejaknya sebagai seorang Penyair. Orang bisa melihat sejauh mana keberadaanya sebagai penyair. Proses kreatifitasnya dalam menulis puisi. Tema-tema kehidupan dan kemanusiaan apa yang dia pilih dan ketengahkan. Konsep dan pikiran apa yang dia kemukakan. Renungan dan kesimpulan apa yang dia tawarkan pada publik hasil dari permenungan dan penafsirannya terhadap peri kehidupan ini, selain dari tehnis penulisan puisi: Cara penajian, pilihan diksi, rima, dan seberapa kaya dan kreatif dia dalam menemukan metafor-metafor kehidupan yang kemudian menjadi puisi. Bukankah, kata Pablo Neruda, penyair Chili, penerima hadiah Nobel itu, bahwa menulis puisi itu, hakekatnya adalah menulis metafor? Keindahan metafor itulah sebenarnya puisi. Keindahan kehidupan yang hanya dengan sepatah dua patah kata bisa menampilkan pesona dan menggerakan semangat kehidupan.
Latar belakang pemikiran yang demikian itulah, setelah lima tahun dilaksanakan secara terus menerus , maka Festival Sastera Internasional Gunung Bintan ( FSIGB ) memilih cara menyeleksi peserta FSIGB 2023 melalui buku puisi tunggalnya. Misi idealnya adalah: Mendorong para Penyair untuk membukukan jejak sejarah kepenyairannya. Sebab, apapun argumentasi seorang penyair terhadap terhadap dirinya, kepenyairannya, karyanyalah yang berbicara. Karyanyalah yang menunjukkan kualitas dan kapasitasnya sebagai seorang penyair. Dan dunia kesusasteraan akan mencatat dan mengkritisinya melalui karya-karyanya itu, dan sebagaimana hakekat sebuah buku, maka dengan buku puisi itu seorang penyair telah membuat sejarah dan tidak dilupakan sejarah. Mewariskan kepada dunia, sebuah karya, sebagai bagian dari pengabdiannya sebagai seorang penyair. Bukankah sebaik baik manusia itu, adalah orang yang bermanfaat bagi kehidupan?
Menulis dan menerbitkan buku puisi (memilih, mengum-pul, dan mendesain sebagai sebuah buku yang layak untuk diperhatikan, dicatat dan dikenang) memanglah tidak mudah. Banyak tetek bengek yang mesti diurus dan disediakan, termasuk biaya cetak dan lainnya, apalagi harus terbit secara indie dan tidak ada penerbit yang mau menerbitkannya, tapi itulah sebuah proses untuk menjadi seseorang penyair, menjadi sesuatu yang berguna. Lihatlah penyair Chairil Anwar, betapa sekarang dunia kesusasteraan Indonesia bisa melihat, mempelajari, bisa menikmati kehebatan puisi-puisinya, bisa berdebat dan berdiskusi tentang karya-karya yang telah ikut mengubah wajah kepenyairan Indonesia, karena aktifitas itu dimudahkan setelah puisi-puisinya itu sudah dibukukan. Bayangkan kalau puisi-puisi itu masih berserakan di mana mana, dalam bentuk naskah, manuskript, yang tak mudah dimiliki umum. Dan karena itu juga, ada yang bilang: memiliki sebuah buku, termasuk buku puisi, adalah bahagian dari seorang sastrawan, khususnya penyair, membuat “nama”, membangun “nama“, merek dan identitas kepeyairannnya.
Dengan latar belakang pemikiran itu juga, maka FSIGB 2023, memilih model diskusi buku puisi dan bukan seminar, untuk pertemuan sastera kali ini, dan temanya pun sangat personal : Penyair, Karya dan Proses Kreatif. Dimana seorang penyair yang dipilih, membicarakan tentang karyanya, tentang proses kreatifitasnya. Mungkin sebuah diskusi awal: Mengapa saya menulis puisi? Menerbitkan dan bagaimana saya memulai proses kreatifitas itu. Memilih tema-tema puisi dan konsep pemikirannya, dan menawarkannya kepada publik sebagai pemaknaan dalam hidup ini, untuk menyerap pemikiran, renungan dan gesaan nurani untuk menjadi pemikiran bersama. Sesunhgguhnya, sebuah puisi yang baik itu, bukan hanya indah dan mempesona dengan sapuan warna kata-kata, tetapi juga menggugah dan membangkitkan kesadaran kemanusiaan kita. Puisi yang baik, adalah puisi yang mengge-rakan semangat. Semangat untuk mencari, semangat untuk menemukan, dan melahirkan kembali pemikiran-pemikiran baru tentang hidup. Puisi yang tanpa kehendaknya telah menyelamatkan kehidupan. Terlalu ideal? Penyair yang tidak tahu untuk apa dia menulis puisi, pada hakekatnya tak pernah menulis puisi. Tabik!
Tanjungpinang, September 2023
Rida K Liamsi












