Produk  

Suara-suara dari Gemuruh Selat

Penulis : Abdul Kadir Ibrahim, dkk
Jumlah Hal : viii + 404 halaman
Ukuran : 14 x 21 cm
Terbit Pertama : 2023
Desain Cover : Mukhamad Amin
Layout Isi : Nizamul Akhyar
Editing Layout : Mukhamad Amin
Subjek : Puisi
Target Pembaca : Umum
Penerbit : Milaz Grafika

Antara Keputusan dan Perjuangan

Pada tahun 2021—2022, ketika Festival Sastra Internasional Gunung Bintan kembali menggelar acara akbar tahunan untuk para penyair antar negara, kita semua tak bisa melakukan sambang-temu dengan mudah, seperti tahun-tahun sebe-lumnya. Kendalanya jelas, yaitu soal pandemi, yang mengharuskan para pejalan lebih mencintai kandang. Maksud dari ucapan saya di atas, ya itu tadi, soal dibatasinya bagi sekelompok orang yang ingin berkumpul—demi menghindari menyebarnya covid.

Sempat terpikir oleh saya, “apa mungkin keadaan seperti ini akan terus kita hadapi, sehingga silaturahmi puisi akan menjadi sebatas kenangan?”
Kemudian mengenai aturan, atau cara agar karya puisi yang bisa masuk ke dalam buku kali ini juga berbeda, yang dipertanyakan oleh sebagian kecil teman-teman penyair. Jadi jawabannya sederhana, “kami hanya ingin agar penyair memiliki keinginan yang sama besar, atas keberadaan diri yang seimbang dengan karya ciptanya.”
Hal yang sejauh ini masih belum bisa dipahami secara lapang dada oleh sebagian penyair, bahwa berjuang di dalam puisi itu tidak mudah. Tidak semata-mata karena sudah menulis puisi, maka kelayakan sebagai penyair dan kelayakan dalam karya cipta, secara serta-merta bisa menjadi seimbang.
Ketekunan seorang penyair, atau, bahkan keinginan kuat dari penyair itu sendiri bisa dilihat dari cara mereka menghargai karya ciptanya. Termasuk dalam pemahaman sederhana, seperti pepatah ‘Jer basuki mawa beya’ juga berlaku dalam setiap bentuk keputusan, yang dilatarbelakangi oleh perjuangan (bekerja keras).
Mengingat bahwa untuk menjadi penyair adalah keputusan, maka sudah barang tentu, jika berjuang juga termasuk bagian dari proses keputusan dalam kepenyairan itu sendiri, yang salah satunya adalah menghargai, dan memperjuangkan karya ciptanya.

Seorang penulis tidak lantas hanya perlu menulis puisi, lalu secara sertamerta ia sudah mampu mencapai impiannya. Tidak! Karena harus diperjuangkan dahulu karya-karya tersebut, sebelum akhirnya mereka (karya cipta itu sendiri) yang akan membesarkan nama penulisnya. Sama halnya ketika Festival Sastra Internasional Gunung Bintan tahun ini memberlakukan aturan berbeda dalam pengiriman naskah puisi, maka diharapkan, dari sini penyair mengerti, jika jalan
puisi memang tidak mudah.

Saya secara pribadi banyak berharap, bahwa jangan menjadi penyair dengan mengedepankan harapan yang sekadar mudah-mudahan, tanpa memperjuangkan karya ciptanya. Karena ini buruk, dan belum ada sejarah dalam dunia kepenyairan yang mampu dicapai secara layak dengan sekadar harapan yang tanpa perjuangan.
Intinya adalah, perbedaan dalam Festival Sastra Interna-sional Gunung Bintan kali ini, kami tidak bermaksud ingin membebani rekan-rekan penyair, dengan mengirimkan buku untuk keperluan kelolosan karya, melainkan ingin mengajak kita semua semakin paham, bahwa konsekuensi dari sebuah keputusan (sebagai penyair) memang tidak segampang berimajinasi dalam menulis puisi.
Mempelajari, memahami, jatuh cinta, lalu kemudian memperjuangkan. Inilah jalan puisi dan penyair tersebut. Maka, sudah jelas bahwa proses demi proses harus berjalan secara berterusan, untuk bisa sampai di titik keinginan.
*

Suara-Suara dari Gemuruh Selat saja, yang merupakan judul dari buku antologi bersama di jazirah empat belas, yang akan diberikan kepada para penyair. Melainkan ada juga buku lain yang tidak kalah menawan secara keilmuan.

Saya tahu kalau bahasa saya dalam mengantarkan buku ini cukup kaku. Mungkin dikarenakan kondisi kepala yang masih dipengaruhi oleh pertanyaan-pertanyaan seputar, “mengapa syaratnya harus mengirim buku, atau mengapa jumlah pesertanya dibatasi?” Jadi mohon maaf kalau ada kalimat dan ungkapan yang agak menekan di sini.

Dato’ Rida K Liamsi sendiri, yang kita ketahui sebagai penggagas sekaligus penanggung jawab adalah tokoh besar yang tidak pernah bermain-main dalam urusan sastra. Bukan hanya pada ajang FSIGB, tapi juga kegiatan-kegiatan sastra yang lain, di mana beliau begitu gigih memperjuangkan sastra, lalu rumah-rumah literasi, juga para penyair berbakat dalam ajang anugerah di berbagai daerah—dan pusat.
Tentu, bahwa bagi saya khususnya, kemudian bagi generasi muda penyair di Kepulauan Riau pada umumnya. Kami seperti menemukan ladang emas atas perjuangan Dato’ Rida. Karena jika tanpa beliau, barangkali sebagian generasi penyair di daerah yang notabene memang agak malas memperjuangkan karyanya sendiri, secara otomatis akan semakin melempem.

Sastra memang butuh perjuangan—dan saya sepakat untuk kalimat ini. Oleh itu, bukankah semangat perjuangan itu sendiri memang perlu ditularkan dengan banyak cara? Salah satunya seperti perjuangan Dato’ Rida (bila kita mampu), atau dengan cara lain, termasuk mengirimkan buku untuk keikut sertaan dalam Festival Sastra Internasional Gunung Bintan—salah satunya.

Karena, ya itu tadi, kalau dikata mengirim buku untuk keperluan kurasi dirasa cukup berat, maka anggaplah itu sebagai bagian dari perjuangan di dunia kepenyairan. Sederhana, bukan?

Yuanda Isha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *