Judul : Antologi Konten Budaya Lokal
Kota Tanjungpinang
Tim Penulis : Adlina Nadhilah Faisal, dkk
Jumlah Hal : xvi + 228 Halaman
Ukuran : 15,5 x 23 Cm
Terbit Pertama : 2025
Desain Cover : @jim
Tata Letak : Milaz Garfika
Subjek : Budaya
Penerbit : Milaz Grafika
Bekerjasama
Dinas Perpustakaan dan Arsip
Kota Tanjungpinang
Kata Pengantar
Puji syukur ke hadirat Allah Swt. atas limpahan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya sehingga buku yang berada di tangan pembaca ini dapat diselesaikan dengan baik. Buku ini merupakan himpunan tulisan yang menggali kekayaan budaya Melayu di Kepulauan Riau—sebuah khazanah yang tidak hanya hidup dalam sejarah, tetapi terus tumbuh sebagai identitas, pedoman, dan kebanggaan masyarakatnya hingga hari ini.
Karya ini disusun dengan semangat untuk menghadirkan kembali nilai-nilai budaya Melayu dalam wajah yang lebih segar dan mudah dipahami oleh generasi masa kini. Setiap tulisan di dalamnya menyajikan pandangan yang beragam, mulai dari adat istiadat, kuliner, pakaian tradisional, permainan rakyat, perobatan tradisional, hingga sastra dan sejarah lokal Melayu. Keragaman perspektif para penulis menjadi kekuatan tersendiri yang memperkaya isi buku ini—menjadikannya bukan sekadar dokumentasi, tetapi juga refleksi mengenai bagaimana budaya Melayu beradaptasi sekaligus bertahan di tengah perubahan zaman.
Buku ini diawali dengan bahasan mengenai Adat Istiadat dan Ritus Melayu, yang memperlihatkan bagaimana nilai-nilai leluhur tercermin dalam pakaian, upacara, dan sikap hidup masyarakat. Tulisan-tulisan pada bagian ini menunjukkan bahwa adat bukanlah sesuatu yang statis, tetapi sebuah ruang tempat tradisi dipraktikkan secara dinamis sesuai konteks sosialnya.
Bagian berikutnya mengangkat Kuliner dan Gastronomi Melayu, menunjukkan bahwa warisan budaya tidak hanya hadir dalam bentuk simbol atau ritus, tetapi juga tersimpan kuat dalam ingatan rasa. Setiap hidangan seperti lendot, nasi dagang, sotong masak hitam, batang buruk, hingga lakse bukan sekadar makanan, melainkan cerita panjang tentang laut, daratan, perjumpaan budaya, serta kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun. Melalui kuliner, kita diajak menyelami identitas Melayu dari sudut yang paling dekat dengan keseharian masyarakat.
Pada bagian Pakaian Melayu, para penulis menggambarkan bahwa busana tradisional bukan hanya produk estetika, tetapi juga media untuk menyampaikan nilai moral, etika, dan kehormatan. Dari cekak musang hingga kebaya labuh, dari songket gonggong hingga teluk belanga, semuanya menyimpan filosofi yang berakar pada kesantunan dan keanggunan Melayu.
Selanjutnya, buku ini mengulas tentang Permainan Tradisional Melayu, yang menjadi pintu untuk memahami pola interaksi sosial, pendidikan nonformal, serta kepekaan generasi terdahulu terhadap alam dan komunitasnya. Permainan seperti congkak, sepak takraw, gasing, hingga engklek adalah bukti bahwa rekreasi masyarakat Melayu memiliki nilai-nilai yang mendalam tentang kerja sama, ketangkasan, kecerdikan, dan sportivitas.
Pada bagian Perobatan Melayu, pembaca diajak melihat bagaimana masyarakat Melayu memadukan pengetahuan alam, spiritualitas, dan pengalaman empiris dalam menjaga kesehatan. Perobatan tradisional bukan hanya solusi pengobatan, melainkan juga cerminan hubungan harmonis antara manusia dengan alam serta keyakinannya kepada Sang Pencipta.
Bahasan mengenai Sastra dan Tradisi Lisan mempertegas bahwa budaya Melayu sangat kaya dalam pengungkapan nilai melalui bahasa. Gurindam, syair, hikayat, dan cerita rakyat menjadi ruang penyemaian nasihat, sejarah, dan moralitas yang diwariskan secara turun-temurun. Tradisi ini membuktikan bahwa kebijaksanaan Melayu telah lama ditanamkan melalui kata yang dirangkai dengan halus, indah, dan penuh makna.
Pada bagian Sejarah Lokal Melayu, para penulis menyuguhkan kembali jejak panjang perjalanan masyarakat Melayu—dari peradaban Melaka, perlawanan terhadap kolonialisme, hingga perkembangan kuliner dan budaya yang lahir dari percampuran berbagai bangsa. Sejarah ini menunjukkan bahwa identitas Melayu dibentuk oleh pengalaman panjang, interaksi antarbudaya, serta keteguhan dalam menjaga marwah dan adatnya.
Bagian Seni Bina dan Teknologi Maritim Melayu melengkapi keseluruhan buku dengan menampilkan kecerdasan lokal masyarakat yang hidup di wilayah kepulauan. Arsitektur rumah Melayu dan keahlian maritim menunjukkan bahwa masyarakat Melayu tidak hanya kaya secara budaya, tetapi juga mumpuni secara teknis dalam menyesuaikan kehidupan dengan lingkungan laut dan pesisir.
Kami menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh penulis yang telah menyumbang gagasan, waktu, dan tenaga dalam penyusunan karya ini. Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada berbagai pihak yang turut mendukung, baik secara langsung maupun tidak langsung, sehingga buku ini dapat hadir sebagai sumbangsih pemikiran bagi dunia pendidikan, penelitian, dan pelestarian budaya Melayu.
Harapan kami, buku ini dapat menjadi sumber rujukan, inspirasi, serta bahan pembelajaran yang bermanfaat bagi pembaca, khususnya generasi muda yang akan mewariskan budaya ini kepada masa depan. Semoga hadirnya buku ini dapat memperkuat kecintaan kita kepada kebudayaan Melayu, serta mendorong lebih banyak kajian dan inovasi dalam pelestariannya.












